About Me

Foto saya
makassar, Sulawesi selatan, Indonesia
Saya mencintai petualangan... otomatis saya menyukai tantangan.. Go Fight!

Translate

Rabu, 01 Oktober 2014

Lagi, Parade Artis dalam Pelantikan Wakil Rakyat

Seperti biasa, saya membuka dinding facebook. Hal menarik pertama yang terposting di akun media sosialku adalah berita terkait pelantikan beberapa artis ibu kota sebagai anggota DPR RI. Setidaknya  18 artis tengah dilantik.

Beberapa tahun terakhir, masyarakat sangat senang memilih artis sebagai wakil rakyat mereka ketimbang memilih calon lain yang mungkin saja memiliki kompeten namun kurang familiar. Hal ini tentu menjadi sebuah diskursus yang menarik. Apakah bisa sosok yang biasanya berprofesi sebagai penghibur dan terbiasa dengan kehidupan mewah nan glamour mewakili suara-suara rakyat kecil. Tahu apa mereka soal harga bawang yang selangit ? ataukah gaji pas-pasan yang bahkan untuk membeli pakaian setiap bulan pun tidak tercukupi. Apakah mereka tahu susahnya rakyat kecil jika bbm naik? Lantaran biaya angkutan umum yang ikut-ikutan naik ?.

Kegetiran saya cukup beralasan. Para pemilih wakil rakyat senang memilih mereka yang wajahnya familiar di layar kaca. Saya berpendapat rakyat kita sangat hobi menonton ketimbang membaca Koran harian yang memuat opini para penulis yang kompeten. Dan diantara penulis-penulis itu boleh jadi ada yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Namun, bukan masalah familiar atau tidak, hanya saja masyarakat menyia-nyiakan hak politik mereka dengan memilih calon karena alasan tenar dan familiar, bukan karena kompetensi. Bersyukur saja jika sang popular memiliki latar pendidikan yang berkualitas. Nah, bagaimana jika mereka yang terpilih tidak bisa meninggalkan kehidupan mewah mereka ? darimana negara dapat membayar harga keterwakilan mereka padahal kita adalah negara miskin. 

Tidak sedikit artis yang membanting setir menjadi wakil rakyat terlibat dalam  kasus korupsi. tak hanya itu, artis yang memiliki suami dan kerja di pemerintahan tidak sedikit yang terlibat dalam kasus korupsi. Bisa jadi ini menjadi salah satu pembuktian bahwa mereka menjadi wakil rakyat dan tidak dapat meninggalkan kehidupan mewahnya. Bagaimana mungkin seorang wakil rakyat hidup lebih mewah dari orang-orang yang mereka wakili. Lalu bagaimana Negara harus membayar mereka untuk waktu yang mereka habiskan menyuarakan rintihan rakyat kecil ?. saya berharap, wakil rakyat adalah mereka yang sederhana, namun memiliki kompetensi dan mau bekerja untuk rakyat.

Urakan tapi Jujur

Saya memiliki seorang teman pria ketika masih mahasiswa. Dia urakan. Jarang masuk ke kelas. Kalaupun masuk, dia pasti terlambat. Di kelas dia sering bertanya kepada dosen mengenai hal yang belum di pahaminya. Namun, tak jarang dosennya malah marah kepadanya karena pertanyaannya yang tak kunjung berakhir, walau jam kuliah telah usai. Bagi sebagian dosen, dia salah satu mahasiswa yang terkenal. Yah, terkenal karena malas bukan karena kecerdasannya.

Diakhir pendidikan strata 1, ia hanya memperoleh IPK 2,7. Bayangkan, nilai di raportnya kalau bukan nilai D, pasti E. terkadang, saya tidak habis fikir. Kok bisa, ada mahasiswa jaman sekarang yang susah mendapatkan nilai. Padahal bila saya melihat teman-teman lain yang sedang kuliah nilainya baik-baik saja walau otaknya tidak encer amat. Untuk mendapatkan nilai yang cantik, mahasiswa cukup rajin hadir, rajin kerjakan tugas, dan ikut ujian walaupun hasil contekan.

Lalu saya pun bertanya kepada teman ku itu. Kenapa nilai kamu jeblok semua?. Lalu ia menjelaskan bahwa bila ia ujian ia tak mau seperti teman yg lain. Ia tak suka menyontek. Ia merasa lebih baik jujur dalam ujian dan mendapatkan nilai hasil usahanya sendiri. Bahkan tugas pun, jika dirinya tak mengerjakan, ia cuek dan tidak terpikirkan dalam benaknya untuk “meng-ctrl z” milik temannya.

Saat ini, sangat jarang mahasiswa yang memiliki kejujuran. Ambisi lebih penting, daripada hakikat kejujuran itu sendiri.

Minggu, 10 Maret 2013

Yang Muda, Yang Menikah

Akhirnya kami memutuskan menikah. Di zaman modern menikah di usia 20 an tahun terbilang cepat dan menuai pertanyaan dari berbagai pihak. Entah terinspirasi dari apa, saya pun memutuskan inilah waktunya. Dengan dukungan dari orang tua yang sangat setuju dengan ide kami ini, akhirnya kami mengikat hubungan kami melalui tali pernikahan. Namun, menikah di kalangan suku bugis, bukanlah hal yang sederhana. begitu banyak prosesi yang harus disepakati oleh kedua belah pihak keluarga hingga ijab qabul dapat berjalan sesuai rencana.
Ketika mahasiswa, saya terbilang orang yang mementingkan kehidupan berorganisasi. hidup yang sibuk dengan berbagai urusan dan karir. Banyak yang tak akan menyangka saya akan memilih menikah di usia yang lebih mudah, mengingat kehidupanku semenjak mahasiswa terbilang sibuk dan aktif. Saya juga bukan tipe feminis, atau wanita yang pandai menjaga penampilan maupun tahu dandan. Maklum kehidupan ketika mahasiswa dihabiskan tidur di kampus dan lebih banyak di jalan. Sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain selain kehidupan organisasi dan kuliah.
Teman-teman seumuran di sekelilingku enggan memilih keputusan seperti ini. Menurut mereka, kehidupan seperti ini terlalu berisiko. Apalagi saat itu, saya dan suami baru saja menyelesaikan kuliah. Bila diukur dari kemapanan, kami belum mapan dari segi materi. diantara kawan-kawanku banyak yang memilih karirnya, karena pertimbangan mereka, pernikahan tanpa kemapanan seperti berada di tengah laut yang ombaknya sangat tinggi. Namun, saya mencoba melakukan tuntunan petunjuk dariNya.
Setelah ijab qabul pernikahan, kehidupan baru ku pun dimulai. Walau terhitung masih seumur jagung, beberapa suka dan duka telah kami jalani bersama dan hal itulah yang membuat kisah pernikahan kami memiliki romantika dan keunikannya. Yang unik adalah saya memiliki tugas baru sebagai seorang istri. Padahal sebelumnya kehidupan  yang saya miliki terbilang cuek. Mulai dari menyeduhkan kopi di pagi hari, melipat pakaian, mencuci pakaian hingga menjemur kasur, bantal dan maupun karpet. kebiasaan yang dulunya selalu berantakan, mengikuti kebiasaan suami yang tidak terbiasa dengan pakaian yang terhambur kemana-mana. Namun, satu hal yang saya senangi darinya adalah dia tidak pernah mengkritik masakan yang  saya buat untuknya. Walaupun tidak terlalu pandai memasak dan belum mengetahui makanan kesukaannya, setiap hari saya mencoba mencari tahu kesenangannya.
Pernah ia menegurku karena pakaian di lemari tidak rapi. sehingga ia kesulitan menemukan pakaian yang diingininya. saya memang kurang lihai dalam urusan lipat melipat baju. Cerita seperti inilah yang menjadi bumbu pernikahan kami.  
Walaupun ini masih awal dan terlalu muda, saya berharap kami bisa saling mendukung dalam keadaan suka dan duka. Terima kasih Tuhan telah memberikan kehidupan baru yang kamipun masih samar-samar di dalamnya.

Minggu, 03 Maret 2013

Indonesia cantik 2012

Taman Bunga Borobudur, Jogjakarta.

Lukisan Ilustrasi pencurian bagian badan stupa candi Borobudur, Jogjakarta.

Lukisan pemimpin Indonesia dari masa ke masa di candi Borobudur, Jogjakarta.

Seni membatik simbol keanggunan wanita Indonesia.

Deretan candi Borobudur yang megah dan elok.

Potongan ukiran yang menceritakan sejarah masa lalu di candi Borobudur, Jogjakarta.

Senin, 10 Desember 2012

Teknologi Informasi dan Komunikasi Digital ala Bambang Prastowo


Pak Bambang Prastowo memberikan kuliah mengenai Apache dan MySql, Senin (10/12)

Senin (10/12),  Pak Bambang Prastowo memberikan pemahaman mengenai MySql dan Apache dari aplikasi XAMPP. Dalam pertemuan kuliah yang ke-13 ini, Pak Bambang berusaha menjelaskan dengan sederhana mengenai cara mendesain html. beberapa Guyonan pun kerap ia lontarkan untuk mencairkan suasana kelas.
berikut hasil materi hari ini :
COBA TENGOK....
Karya Pertama menggunakan Apache XAMMP, Senin (10/12).

ini dia si ela manis, baik hati dan tidak sombong ;-)!


ia melanjutkan pendidikan di SIMKES
di UGM





IDENTITAS
AlamatSagan
Tempat dan Tanggal lahirSinjai, 2- April 19-9
Hobi

  1. Bermain Basket

  2. membaca

Kamis, 06 Desember 2012

"Lingkaran Setan" Informasi


Jarum jam menunjukkan pukul 10.00. Ruangan di depan sekertariat Sistem Infomasi Manajemen Kesehatan terlihat lengang. Tak seorang pun mahasiswa yang melewati ruangan itu. 18 mahasiswa angkatan 2012 asik beraktivitas dengan laptop mereka masing-masing. Satu persatu mahasiswa yang tadinya sibuk memencet tuts laptop tiba-tiba berhenti berbarengan ketika dosen dr. Andreasta Meliala, M.Kes, Mata Kuliah (MK) Kepemimpinan membuka pintu. Dan dibelakang punggung Pak andreasta, seorang ibu berjilbab merah  membuntutinya. Ternyata, Pak andreasta mengajak ibu itu, dr. Siti Noor Zaenab, M.Kes, untuk berbagi pengalamannya ketika menjabat sebagai kepala dinas Bantul.
 Hal yang menarik adalah alasan mengapa yang menjadi fokus sharing  untuk diskusi MK Kepemimpinan ini adalah seorang ibu yang notabene adalah mantan kepala dinas. Mengapa ia tak mengajak kepala dinas yang sedang menjabat saat ini. Ternyata, di akhir kuliah Pak Andreasta menyingkap hal itu dan ia mengatakan, bahwa ib siti adalah pensiunan yang masih aktif sebagai konsultan di Nusa Tenggara Timur.

Kuliah Kepemimpinan oleh dr. Andreasta Meliala, M.Kes dan dr. Siti Noor Zaenab, M.Kes
Pernyataan yang menarik dari Ibu Siti, “lingkaran setan informasi”. Ia menggambarkan bahwa terjadi lingkaran setan antara petugas informasi, pertugas di lapangan, dengan kepala dinas yang bertugas mengambil keputusan. Ketika informasi yang dihasilkan asal-asalan dan itu dilaporkan dan menjadi acuan pengambilan keputusan, maka akan terjadi siklus kesalahan terstruktur yang akan terus berulang.  

Hal menarik lainnya lagi adalah Ibu Siti mengandalkan kepekaannya dalam memberdayakan sumber daya di lingkungan kerjanya. Ia berusaha memanfatkan apa yang dimiliki tim untuk mencapai tujuan Dinas Kesehatan Bantul. Ia mengenali kesenangan, kelebihan dan kekurangan timnya. Oleh karena itu, ia mampu menggerakkan followership-nya untuk melaksanakan selangkah demi langkah pekerjaan mereka.

Rabu, 17 Oktober 2012

Tanda-tanda Kiamat Berbasis Kesehatan Lingkungan

Hari itu, jam di ruangan 301 menunjukkan angka 15.00 WIB. Seorang dosen dengan setelan kemeja dan rambut agak putih masuk ke dalam ruangan sambil membawa tas hitam. Pelan tapi pasti, bapak yang juga seorang dokter ini memberikan materi dengan gayanya yang nyentrik serta selengean. Kami, mahasiswanya tidak kaget lagi, maklum dialah dosen yang kerap memberikan materi kesehatan lingkungan di kelas kami, Kelas Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Sesekali agar kami tidak bosan, ia memberikan guyonan yang reflektif. Sungguh Belajar dari guru yang satu ini memang terbilang membutuhkan kacamata tersendiri untuk memahami apa yang diucapkannya. Bagi orang yang pemikirannya belum sampai, tak akan paham dengan apa yang ia ucapkan. Bapak yang menjadi sahabat bagi para tukang becak di Jogjakarta ini sering mengeluarkan pesan yang eksplisit. Jadi, pendengarnya juga harus siap dengan kesiapan methapora berpikir.
Kala itu di tengah penjelasannya mengenai paparan gelombang radiasi alat-alat elektronik di kehidupan manusia, Ia yang selalu bercerita soal kucing kesayangannya ini mengatakan, "dulu Nabi Muhammad pernah mengatakan bahwa tanda-tanda kiamat itu jika telah banyak bangunan rumah yang bertingkat-tingkat (bersusun). 

Pikiranku pun melayang, merefleksikan kata-kata bapak ini. Karena terlalu sering melihat slide gambar tumpukan sampah yang mulai menggunung di beberapa pertemuan kesehatan lingkungan, saya pun merenung dan berpendapat bahwa sebenarnya tanda-tanda kiamat itu bila dimana-mana timbunan sampah sudah setinggi rumah bertingkat.

Minggu, 14 Oktober 2012

Tak Hanya Pintar (saja) Namun Bijaksana

Sejak di bangku Sekolah Dasar, batinku selalu bergejolak. Bertanya-tanya mengapa semua anak-anak harus sekolah. Padahal dengan bermain sepuasnya dengan alam adalah hal yang lebih dari cukup. Sejak kecil, saya tak pernah memahami mengapa kami harus belajar membaca, menghitung dan berbagai aktivitas belajar lainnya. Yang saya tahu dari proses belajar itu hanyalah teman-teman pintar dan mendapatkan rangking atau juara kelas. Benak diriku yang masih kecil saat itu, masa bodoh dengan juara dan sebagainya. Karena Saya yang begitu kecil lebih menyenangi bermain dengan alam dan lingkungan sekitarku (lingkungan pasar).

Sepulang sekolah saya memilih bermain. Berjalan sepuasnya mengelilingi Kota kecilku. Tak lupa saya selalu menyempatkan berjalan-jalan dengan kaki telanjang menuju pusat penjualan sayur. Melihat tanaman-tanaman kecil yang tumbuh di bawah para pedagang sayur membuatku merasa tak sabaran. Diriku yang Mungil ini pun segera mencari bekas tempat sabun colek dan mengisinya dengan tanah. Sungguh, saya dengan wajahku yang kumal ini telaten mencabuti tanaman-tanaman kecil (bibit tomat, lombok, semangka) dan kemudian saya memindahkannya dalam wadah bekas sabun itu.

Tanpa mengingat apa itu matematika, bahasa indonesia dan sebagainya, setiap hari saya hanya fokus pada tanaman-tanaman itu. Saya yang kecil, mulai bergegas menanamnya satu persatu. Hingga akhirnya tomat kecil berbuah, lombok biji, semangka hingga pepaya ku berbuah. Sangat senang rasanya.

Saya pada saat itu dianggap paling bodoh. Ketika semua anak-anak sibuk dengan ujian dan mengejar rangking, diriku malah tak mengerti apa-apa mengenai belajar yang baik seperti apa. Malah membaca pun sangat sulit. Mengapa tidak, diriku yang sewaktu kecil adalah yang bebas dengan berbagai petualangan kecil.
Seseorang menjadi pintar atau tidak pintar itu perkara seberapa terang lenteranya (baca: guru) bisa mengarahkan jalan yang dituju. Saya menyadari bahwa sewaktu kecil, saya belum menemukan guru yang mau memperhatikan dan memahami apa yang saya butuhkan di kala itu. Menjadi sosok yang pintar itu mudah. Semua orang bisa menjadi pintar bila ia mau berusaha belajar dengan rajin. Namun, menjadi bijaksana itulah yang susah. Tidak semua orang bisa memaknai dan merefleksikan sesuatu.

Sekolah jika hanya bertujuan membuat seseorang menjadi pintar, itu adalah tujuan yang keliru. Seorang setelah menjadi pintar seharusnya beranjak dari model pintarnya menuju sosok yang bijaksana, sosok yang mencintai kebijaksanaan. Sosok yang berphiloshopia. Tentunya pintar saja tidak cukup, namun pengalaman, emosional dan spiritual.


Jumat, 12 Oktober 2012

Memaknai Buah Apel Matang yang Jatuh dari Pohonnya

Jogjakarta, senja menjelang, Minggu (7/10). Bersama beberapa rekan di Program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat kami melaju pulang menuju kos kami. Hari itu, mendung menyapa kota Jogjakarta, tepat di hari ulang tahunnya. Kami baru saja menikmati wisata arum jeram di Magelang. Dengan sepeda motor yang melaju kencang, hujan pun menyapa kami. Terlanjur basah, rombongan kami tetap melawan derasnya hujan.
Tiba-tiba saya melihat tetesan air hujan yang menetes perlahan dari sebuah mobil. tetesan air hujan itu terus saja mengalir ke bawah, mencari tempat terendah. alhasil, saya pun kemudian merenung air saja yang benda mati masih saja selalu mencari tempat terendah untuk tergenang dan mencari kondisi paling tenang.
Sifat air yang tatkala selalu mencari tempat terendah ini menjadi bahan renungan yang luar biasa. Karena kita sebagai manusia yang diberi akal malah selalu mencari posisi setinggi mungkin sebagai alasan untuk angkuh dan diakui oleh manusia lainnya. Hemat saya, terlalu dangkal dan tidak elegan untuk ukuran manusia yang dibekali akal pikiran.
Begitupula  jika mengamati buah Apel yang matang di pohonnya. Kebiasaan buah apel akan selalu meninggalkan pohonnya dan terjatuh ke bawah. Tak jauh berbeda dengan air, ternyata apel pun mempraktikkan pola yang sama.Padi yang berisi pun akan semakin merunduk. Jadi, semua yang matang, berisi atau pun penuh itu seharusnya menjadi pribadi yang merendah (tidak angkuh). Namun, kekuatannya itu terletak pada metaberpikir seseorang. dan kesimpulan saya, hanya yang berisi, matang atau penuh itulah yang bisa mengolah metaberpikirnya untuk menuju sikap merendah diri.    

Selasa, 11 Oktober 2011

Mewariskan Tawuran

Ketika masa Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tiba, maka iklim kampus pun berubah drastis.
    Tampak pengumpulan Mahasiswa baru (Maba) di setiap sudut universitas. Setiap fakultas melakukan pengaderan di areanya masing-masing. Berbeda fakultas, pengaderan pun didesain oleh pengurus Lembaga Mahasiswa (Lema) sesuai karakter dan ciri khas fakultas. Pemandangan tahunan yang tidak berbeda dari tahun ke tahun.
Dulu, ketika lema masih berkibar di kampus merah ini, mahasiswa memiliki porsi yang amat besar untuk menyambut adik-adik mereka. Pengaderan tingkat universitas menjadi cerita yang selalu dikenang. Walau berbeda fakultas, Lema universitas mampu mengumpulkan Maba dari berbagai fakultas yang berbeda. 
Sejak tahun 2006, Universitas mulai mangambil alih prosesi penerimaan Maba. Jika dulu, Lema memiliki kekuasaan penuh tuk generasi penerus mereka (Maba, red). Kini mereka harus bersabar menyapa adik-adiknya kurang lebih tiga bulan setelah prosesi PMB oleh universitas. Puas atau tidak, keputusan ini harus diterima oleh semua Lema.
Kebijakan universitas ini tak lain karena kurangnya kepercayaan terhadap Lema. Kini, kondisi lembaga yang berfragmen dan tak adanya Lema tingkat universitas membuat universitas sangsi prosesi penerimaan Maba ini diserahkan sepenuhnya kepada mahasiswa.
Kini pemandangan pengaderan tingkat universitas laiknya fatamorgana di malam hari. Tiap lembaga fakultas melakukan pengaderannya masing-masing. Hasilnya, mahasiswa hanya mampu mempertahankan solidaritas hingga tingkat fakultas, solidaritas tingkat universitas nol. Alih-alih berharap mahasiswa berbeda fakultas dapat dikumpulkan bersama, yang terjadi kini malah gesekan-gesekan personal yang bermuara pada bentrok dan tawuran antarfakultas.
Mahasiswa ketika tawuran tak pernah berpikir panjang. Batu, kepingan kaca hingga pecahan genteng dijadikan sebagai senjata. Emosi yang melahirkan luka psikis dan fisik. Dan ini akan selalu menjadi warisan yang turun temurun. Tawuran tak menjadi hal baru. Ini telah terjadi berkali-kali dari tahun-tahun sebelumnya. Setiap kali tawuran terjadi, Maba menyaksikan dan akan menyampaikannya pada generasi selanjutnya sebagai sebuah warisan yang membudaya. 
Selalu saja ketika maba hadir di tengah-tengah sivitas akademika, tawuran mewarnai iklim akademik kampus kita. Adanya kecenderungan ingin terlihat lebih kuat dan memperlihatkan ‘taring’ kepada lembaga mahasiswa lainnya menjadi motivasi hujan batu yang belakangan menjadi tren mahasiswa Unhas yang senang tawuran.
Solidaritas yang ditanamkan kepada maba bukan solidaritas memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Namun, solidaritas yang terbangun adalah solidaritas gengsi, solidaritas yang semata-mata ingin memperlihatkan bahwa senior mampu melindungi juniornya dari ‘taring’ Lema lainnya. Padahal, awalnya ini disebabkan karena konflik personal, oknum mahasiswa yang tak bertanggung jawab yang akhirnya melibatkan dua kubu yang terprovokasi.
Keadaan ini diperparah oleh solidaritas mahasiswa yang terputus pada tataran antarfakultas. Kurangnya solidaritas mahasiswa pada tingkat universitas menjadikan mahasiswa mudah diadudomba antarsesamanya. Padahal solidaritas mahasiswa di tataran universitas perlu diperkuat untuk mengawal isu-isu yang lebih merakyat.
Tapi entah kenapa mahasiswa kini lebih mudah diprovokasi sehingga energi mereka terbuang untuk hal-hal merugikan-tawuran. Seandainya saja energi mahasiswa diarahkan untuk memperjuangkan nasib bangsa kita yang terpuruk dan miskin tentu pandangan masyarakat terhadap mahasiswa akan lebih elok.n

Tirani Birokrasi Kian Langgeng


Puluhan mahasiswa dinyatakan Drop out (DO) dan puluhan lembaga mahasiswa dibekukan. Miris menyaksikan tirani birokrasi yang berlangsung di Universitas Negeri Makassar. Perlakuan yang tak humanis dari kalangan birokrat yang notabene adalah akademis yang seharusnya menjadi panutan masyarakat. Represif seperti itulah problem solving yang kini dilakukan. Dan parahnya, tindakan ini didengar dan mungkin saja akan menjadi referensi masyarakat awam.
Tak ada proses mediasi dan komunikasi, mahasiswa yang melanggar serta merta mendapatkan Surat Keputusan (SK) DO. Sangat disayangkan, karena mahasiswa dalam proses belajarnya mendapatkan pelajaran yang buruk-bersikap represif. Selain itu, birokrasi yang seharusnya bersikap selaiknya orang tua ternyata tak mampu mengajarkan kebijakan dan kebajikan bagi anak-anaknya yang masih dalam proses pencarian jati diri.
Ini menjadi pelajaran bagi universitas manapun. Bukankah ini menjadi tamparan keras bagi pelaku intelektual? Hal ini seharusnya menyadarkan bila ada kekeliruan mahasiswa dalam prosesnya, pendidik seyogyanya memberikan arahan yang lebih humanis. Ada proses diskusi agar kedua pihak mendapatkan titik temu. Namun bila seperti inilah kenyataannya maka sedari awal yang tujuannya untuk menyelesaikan masalah, malah hanya akan melahirkan masalah baru yang tak berujung.
Dua puluhan lembaga telah dibekukan. Mahasiswa kini seolah mati. Mahasiswa dilumpuhkan dengan DO, tak puas birokrasi membekukan lembaganya. Kebebasan berekspresi mahasiswa ditekan dengan cara yang tak humanis oleh pelaku yang seharusnya memberikan contoh sikap yang humanis. Intelektual birokrasi idealnya tergambar dari tindakan mereka. Namun, pemikiran yang intelektual tidak dibarengi dengan sikap yang bijaksana.
Kejadian ini akhirnya melahirkan ketakpercayaan. Lembaga mahasiswa dan birokrasi menganut jalan yang berbeda. Padahal keduanya memiliki keterkaitan. Birokrasi kurang mendukung keberadaan lembaga mahasiswa dengan menekan ruh mahasiswa secara perlahan. Birokrasi berniat ‘mematikan’ mahasiswa. Mahasiswa dilarang berekspresi dan melepas baju kemahasiswaannya adalah tindakan yang kurang elegan.  Padahal begitu banyak langkah berkelas yang dapat diupayakan.
Kini, tirani birokrasi semakin memperlihatkan taringnya. Mahasiswa yang dikekang dengan hak pengeluaran SK DO hanya akan melahirkan perlawanan. Tak hanya mahasiswa UNM yang akan melawan, namun kalangan mahasiswa dari universitas lainpun menunjukkan solidaritas mereka. Berbagai universitas turut membantu perjuangan mahasiswa yang ditindas oleh kesewenang-wenangan birokrat.
Universitas yang seharusnya tak sepakat dengan kesewenang-wenangan, malah memberikan contoh yang buruk kepada masyarakat. Bagaimana bila sikap seperti ini menjadi acuan setiap instansi di negeri ini? Semua masalah diselesaikan dengan pemecatan secara sepihak tanpa adanya diskusi untuk mencari akar masalah. Tak lain agar kedepannya masalah yang sama tak terulang.
Sikap birokrat yang otoriter ini seolah meniadakan demokrasi di negeri ini. Bukankah ada beberapa langkah penyelesaian masalah. Dan tak sepantasnya mahasiswa dihakimi dan dijatuhi hukuman DO. Banyak langkah menuju mufakat dan birokrat UNM belum melakukan hal itu. Tanpa teguran, tanpa proses sharing DO dilakukan tanpa pertimbangan yang matang. Bila semua mahasiswa di DO, lalu mahasiswa seperti apakah yang pantas mengenyam pendidikan?
Kasus yang terjadi di UNM ini seharusnya mendapat perhatian dari pihak universitas lainnya. Bila ini terus berlanjut dan menjadi contoh di tempat lain, entah seperti apa negara kita kelak.